Sabtu, 21 April 2012

Karakteristik Perkembangan Anak Usia SD

1.1.       Perkembangan Fisik Monotorik
[1]Seiring dengan pertumbuhan fisik yang beranjak matang,maka perkembangan monotorik anak,fperkembangan anak usia dasar ditandai dengan gerak atau aktifitas motoric yang lincah oleh karena itu usia ini merupakan massa yang ideal untuk belajat ketrampilan yang berkaitan dengan motoric baik halus maupun kasar
Contoh  perkembangan motorik anak
Motorik  Halus
Motorik Kasar
1.             Menggambar
1.             Bela diri
2.             menulis
2.             berenang

Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu factor penentu kelancaran proses belajar baik dalam bidang pengetahuan maupun ktrampilan,oleh karena itu perkembangan motorik sangat enunjang keberhasilan peserta didik.
Upaya-upaya sekolah untuk memfasilitasi perkembangan motoric secara fungsional tersebut diantaranya sebagai tersebut:
1.             Sekolah merancang pelajaran krampilan yang ber,manfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak
2.             Sekolah memberikan pelajaran senam atau olah raga kepada sisiwa.
3.             Sekolah perlu merekrut guru-guru yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tersebut.
4.             Sekolah menyediakan sarana untuk kelangsungan pelajaran tersebut.
 A.           Pengertian Intelektual
[2]Intelektual menurut para ahli diantaranya menurut Wechler (1958) merumuskan intelektual sebagai "keseluruhan ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelektual bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual.
1.2.       Perkembangan intelektual
[3]Pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemamapuan intelektual atau kemampuan kognitif. Menurut Piaget masa ini berada pada tahap operasi konkret yang ditandai dengan:

1.             kemampuan mengklasifikasikan benda-benda dengan ciri yang sama.
2.             Menyusun atau mengasosiasikan angka-angka atau bilangan.
3.             Memecahkan yang sederhana.
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikanya berbagai kecakapan yng dapat mengembangkan pola piker atau daya nalarnya. Untuk mengembangkan daya nalarnya, daya cipta,kreatifitas anak maka anak perlu diberi peluang-peluang untuk bertanya berpendapat atau menilai tentang berbagai hal tentang pelajaran atau peristiwa yang terjadi di lingkungan.
Upaya lain yang dapat dilakukan sekolah dalam mengembangkan kreatifitas anak adalah dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti lomba mengarang,menggambar dan menyanyi.
 [4]Faktor-Faktor yang Mempengaruhi perkembangan Intelek
A.           Bertambahnya informasi yang disimpan(dalam otak)seseorang sehingga ia mampu berpikr     reflektif
B.            Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang bisa berpikir proporsional.



1.3.       PERKEMBANGAN BAHASA
[5]Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, atau isyarat. Melalui bahasa, setiap manusia dapat mengenal dirinya, sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir (kira-kira usia 11-12) anak telah dapat menguasai sekitar 5.000 kata.
Di sekolah, perkembangan bahasa anak ini diperkuat dengan diberikannya mata pelajaran bahasa, baik bahasa indonesia, bahasa ibu, maupun bahsa inggris. Dengan diberikannya pelajaran bahasa di sekolah, para siswa diharapkan dapat menguasai dan menggunakannya sebagai alat untuk : (1) berkomunikasi secara baik dengan orang lain, (2) mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap, atau pendapatnya, (3) memahami isi dari setiap bahan bacaan yang dibacanya.
Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa atau keterampilan berkomunikasi anak melalui tulisan, sebaiknya anak dilatih untuk membuat karangan atu tulisan tentang berbagai hal, seperti tentang kehidupan keluarga, dan cita-cita.
Bahasa merupakan alat komunikasi dalam pergaulan sosial karena dengan komunikasi bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif untuk mendapatkan pendidikan yang optimal. Apabila guru dan siswa saling komunikasi dengan baik dan anak mengerti apa yang dikatakan oleh seorang guru, tentunya dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal. Fungsi dan tujuan berbicara antara lain: (a) sebagai pemuas kebutuhan, (b) sebagai alat untuk menarik orang lain, (c) sebagai alat untuk membina hubungan sosial, (d) sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri, (e) untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain, (f) untuk mempengaruhi perilaku orang lain.



1.4.       PERKEMBANGAN EMOSI
[6]Pada usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperolehnya melalui peniruan dan latihan (pembiasaan).
Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua atau guru dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak juga akan cenderung stabil, namun apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil, maka perkembangan emosi anak juga cenderung kurang stabil.
Karakteristik emosi anak
Karakteristik Emosi Stabil
Karakteristik Emosi tidak stabil
Menunjukkan wajah ceria
Menunjukkan wajah murung
Dapat berkosentrasi dalam belajar
Mudah tersinggung
Bersikap respect (menghargai) terhadap diri sendiri dan orang lain
Suka marah-marah

Emosi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkah laku individu. Emosi positif akan mempengaruhi individu untuk mengosentrasikan dirinya terhadap aktifitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif berdiskusi dll.
Sebaliknya, apabila yang menyertai proses belajar itu emosi yang negatif, maka proses belajar tersebut akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.
Oleh karena itu, seharusnya guru mempunyai kepedulian untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar siawa yang efektif. Upaya yang dapat ditempuh guriu dalam menciptakan susana belajar mengajar yang kondusif itu adalah sebagai berikut:
1.             Menciptakan susana kelas yang bebas dari ketegangan, seperti guru bersikap ramah, tidak judes, atau galak
2.             Memperlakukan siswa sebagai indidu yang mempunyai harga diri
3.             Memberikan nilai secara adil dan objektif
4.             Menciptakan kondisi kelas yang tertib, bersih, dan sehat.

1.5.       Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Perkembangan sosial juga bisa diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral agama.
Perkembangan sosial pada anak usia SD/MI ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan para anggota keluarga, juga dengan teman sebaya (peer group), sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas.
Pada usia ini, anak mulai memliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat kepada diri sendiri (ogosentris) kepada sikap bekerja sama (kooperatif) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mulai berminat terhadap kegiatan- kegiatan teman sebaya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok dan merasa tidak senang apabila tidak diterima oleh kelompoknya
Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik (seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah_, maupun tugas yang membutuhkan pikiran.
Tugas-tugas kelompok ini haruslah memberikan kesempatan kepada setiiap peserta didik atau siswa untuk menunjukkan prestasinya. Dengan bekerja kelompok, siswa dapat belajar tentang bagaimana cara ia bersosialisasi, bekerja sama, saling menghormati, bertenggang rasa dan bertanggung jawab.
1.6.        Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.             Sikap keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
2.             Panangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
3.             Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab, atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanyaa merupakan hasil sosialisasi orang-orang di sekitanya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya.
Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadarannya akan fungsi agama baginya, yaitu sebagai penggerak moral dan sosial. Dia mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat luas. Berdasarkan ini , maka shalat berjama’ah atau shalat Idul Fitri/Adha dan ibadah sosial lainnya sangat menarik baginya.
Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu, pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting dan layak menjadi perhatian yang lebih oleh semua pihak.
Menurut Zakiah Darajat (1968: 58) mengemukakan bahwa pendidikan agama di sekolah dasar merupakan dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian dan akhlak anak. Apabila berhasil, maka pengembangan sikap keagamaan pada masa remaja akan mudah, karena anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.



2.        Hubungan antara Aspek Perkembangan Siswa dengan Pembelajaran
2.1.        Hubungan perkembangan intelektual dengan pembelajaran
Kemampuan intelektual pada masa  ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. Kepada siswa sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperti membaca, menulis, dan berhitung.
Dalam rangka mengembangkan kemampuan-keemampuan siswa, pihak sekolah dalam hal ini guru-guru seyogianya memberikan kesempatan pada siswanya untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapatnya tentang materi pelajaran yang dibacanya atau yang telah dijelaskan oleh guru.
Untuk mengembangkan kemampuan intelektual atau keterampilan berpikir siswa, baik sekali apabila guru merujuk pada pendapat Jones et.al yaitu tentang “core thinking skills” antara lain sebagai berikut:
a.     Mengasah ketajaman pancca indra untuk menerima masukan informasi dari luar
b.    Mengarahkan persepsi dan perhatian untuk menjaring informasi
c.     Mengevaluasi, melakukan penilaian
d.    Mengabstraksi, restrukturisasi, membuat ringkasan
e.     Menyimpulkan, menduga, elaborasi. Berkaitan engan produk hafalan, diupayakan agar anak dapat melakukan penyimpulan
f.      Mengidentifikasi ciri penting
g.    Mengurutkan, membedakan, mengelompokkan
h.    Mengingat, dengan strategi antara lain pengulangan, memberi makna, membuat catatan, melakukan asosiasi pengalaman sehari-hari.
2.2.        Hubungan Perkembangan Bahasa dengan Pembelajaran
Pembelajaran bahasa disekolah sengaja untuk menambah perbendaharaan kata-katanya, mengejar dan menyusun struktur kalimat, peribahasa, kesusastraan, dan keterampilan mengarang. Dengan dibekali pelajaran bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan mempergunakannya untuk :
a.     Berkomunikasi dengan orang lain
b.    Menyatakan isi hatinya (perasaannya)
c.     Memahami keterangan (informasi yang diterima)
d.    Berpikir (menyatakan pendapat atau gagasannya)
e.     Mengembangkan kepribadiannya, seperti menyatakan sikap dan keyakinan.
2.3.       Hubungan Perkembangan Sosisal dengan Pembelajaran
Berkat diperolehnya perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebayanya atau dengan lingkungan masyarakat sekitanya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik, maupun yang membutuhkan fikiran.
2.4.       Hubungan Perkembangan Emosi dengan pembelajaran
Emosi merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar.
Emosi positif akan memmengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar seperti memerhatikan penjelasan guru, membaca buku-buku, aktif dalam berdiskusi dan lain sebagainya.
Mengingat hal tersebut, sebaiknya guru mempunyai kepedulian untuk menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, atau kondusif bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif sserta mempunyai kepedulian untuk membantu memecahkan masalah yang dialami peserta didik.
2.5.       Hubungan Perkembangan Keagamaan dengan Pembelajaran
Disamping pemberian materi agama kepada anak, guru juga harus membiasakan latihan keagamaan yang menyangkut ibadah dan akhlak.
Disamping pemberian materi ibadah, perlu juga dibiasakan melaksanakan ibadah sosial, yaitu menyangkut akhlak terhadap sesama manusia.
Yang ketiga perlu pula diajarkan tentang hukum-hukum agama contohnya halal-haramnya sesuatu dan wajib-sunnah yang menyangkut ibadah.
2.6.       Hubungan Perkembangan Fisik (motorik)dengan Pembelajaran
Perkembangan motorik sangat berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar. Perkembangan fisik yang normal adalah salah satu faktor penentu kelancaranproses belajar, baik dalam bidang pengetahuan, maupun keterampilan.
Pada masa usia dasar, kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya telah dicapai, oleh karena itu mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan.
Untuk memfasilitasi perkembangan motorik atau keterampilan ini, maka sekolah perlu menyiapkan guru khusus di bidang keterampilan.


[1]Syamsu Yusuf Perkembangan peserta didik, PT.Rajagrafindi persada,Jakarta 59-60
[2]
[3] Syamsu Yusuf Perkembangan peserta didik, PT.Rajagrafindi persada,Jakarta,61-62

[4]
[5] Syamsu Yusuf L.N, perkembangan peserta didik, PT Raja Grafindo Persada Jakarta, 62-63
[6] Syamsu Yusuf L.N, perkembangan peserta didik, PT Raja Grafindo Persada Jakarta, 62-63

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar